
Bingkisan Surat
Terakhirku
Oleh : Nur Aviana,
S.E.
Petangku,
kini tak sempat berbalas dengannya. Bersandar ku di sudut pojok kamar dengan
bergenggam jari jemari yang lambat laun makin merubah suhunya. Entah apa yang
ku rasa, semua berkumpul menjadi satu, merasuk di dalam pikiran.
Petangku, kini tak sempat berbalas dengannya. Yang ada, kini hanyalah diriku
yang bergenggam kertas putih diatas meja belajar.
Aku
tak tau apa yang kini kurasakan. Dia masih saja mengusik diriku. Yang aku tau
hidupku terasa lebih indah sejak berpapasan pertama kali denganmu. Ku pikir
kini diriku sudah lupa ternyata rasa itu masih ada. Sementara itu, foto yang
bersandar dibawah ventilasi kamar dengan bingkainya yang nian indah dan
berbalut pita di setiap ujungnya itu terus mengamatiku dari kejauhan.
Iya,
aku selalu teringat dia yang selalu ada ketika diriku tak kuat menahan tangis
di pelupuk mata. Kapan lagi dia datang, mengisi hari-hariku seperti dahulu
kala. Yang ada, hanya sisa pesan yang pernah ia lontakan di tiap waktu
senggangnya. Apalah dayaku, yang hanya mampu membaca berulangkali demi
menghibur hati agar serasa seperti dahulu.
Dibalik
persembunyianku ini ada hati yang ku tunggu yaitu kamu. Aku hanya ingin
bersabar, berharap akan ada kejutan dibalik rahasiaku yang terpendam. Daripada
memaksa, yang akan menghempaskan sakitnya perasaan kecewa. Hingga akupun
berpikir, lebih baik memendam harapanku ini yang tak sempat terlabuhkan.
Meskipun ada rasa yang hinggap dihatiku, aku masih tak mengerti, apakah sanggup
untuk aku pertahankan? Sampai sekarang aku tak tau, karena dibalik suatu
jawaban pasti akan ada ruang untuk pilihan.
Meskipun kamu sering diamkan aku, tapi aku yakin mungkin ini caramu untuk
menyimpan perasaanmu padaku.
Maafkan
jika selama ini aku hanya berdiam pula, aku hanya ingin menunggu waktu yang
tepat saja. Sebenarnya dalam hatiku sering menggerutu jika lama tak ada kabar
darimu. Aku hanya bisa menunggu. Sesingkat apapun pesan yang kau kirimkan,
semua itu sangatlah berharga bagiku dan masih ku simpan sampai sekarang.
Seringkali aku memang merindumu, tapi apalah dayaku. Karena semua itu
membutuhkan kesabaran.
Maafkan
jika selama ini aku punya salah, mungkin saja terkadang aku berburuk sangka
terhadapmu karna kau sering tak memberikan sedikitpun kabar untukku, dan itu
hanya ku pendam sendiri. Aku memang seperti ini, aku hanya wanita yang selalu
dalam kediaman dan memendam cerita sendiri. Jujur, aku sangat malu apabila
bertemu denganmu untuk menceritakan perihal tentangku. Bahkan, untuk
menghubungi lewat sms atau telepon pun aku merasa malu.
Maafkan
jika aku sering mengkhawatirkanmu. Karna diammu memberikan ruang bagiku untuk
merasa takut. Namun, sebenarnya aku tak bermaksud seperti itu, hanya saja rasa
ini selalu hadir, karna yang ku tau mungkin rinduku tak akan sempat terucap
padamu. Bagiku, tiap hari akan terasa lebih indah karna telah ada sosok lelaki
sepertimu. Karna itulah aku selalu percaya diri dan optimis dalam melakukan
sesuatu. Aku yakin bahwa kau akan berikan yang terbaik untukkku pada waktunya.
Andaikan
kamu tau, hari serasa sunyi dan sepi ditiap pagiku. Hanya nyanyian burung dan
sapaan mentari yang mampu mengisi keceriaan hatiku. Sebenarnya, aku sendiri
merasakan sakitnya rasa yang tak terkatakan. Rasa yang hanya mampu didekap
dalam bungkam kediaman. Bahkan diam dalam berbicara karna tak sedikitpun kamu
bertegur sapa denganku.
Masih
dalam segudang rasa penasaranku. Terkadang, aku mengerutkan kening karena
menunggu kehadiranmu. Namun, aku tak bisa menemuimu. Iya, aku hanya inginkan
waktu yang tepat. Aku rasa sekarang kita hanya bisa menjaga satu sama lain.
Hari-hariku
adalah penantian. Hanya lewat penantian dan kesabaran kita akan dipersatukan.
Rasa gelisah pasti selalu berselimut dalam hatiku. Mungkin saja menjadi
rutinitas di tiap hariku. Tak jarang aku merasa seperti bulan yang berjalan
sendiri tanpa adanya bintang. Malam petangku pun menjadi suasana penuh harap.
Berharap kita sedang menatap bintang dalam waktu bersamaan.
Rasa
ingin tau selalu mendera dalam hidupku. Bagaimana kabarmu disana? Apakah kamu
baik-baik saja? Itu yang selalu terlintas dalam ubun-ubunku seketika
merindukanmu. Memandangimu dalam realita mungkin sedikit perih. Meski hanya
dalam sebuah mimpi yang dikata orang mimpi hanya sebatas semu belaka. Tapi, aku
selalu berpikir positif. Aku yakin bahwa kamu akan selalu menjaga sesuatu yang
engkau rasakan. Aku hanya tak inginkan kau membuatku menguras kesedihan, karena
perasaan tak sekedar diremehkan. Semoga saja kau tak seperti orang yang
memancing ikan dan mencoba untuk melepaskannya begitu saja. Karna ikan yang
telah terjerat, akan merasa sakit pabila dilepaskan begitu saja.
Seringkali
ku sendiri bersandar di jendela, meneteskan air mata dan berharap kamu datang
sambil melontarkan senyuman padaku. Mungkin semua itu dapat membuatku lebih
bahagia. Tapi seperti inilH, berdiam adalah caraku untuk menjaga diriku
sendiri. Yang aku inginkan, kamu mampu membuatku tersenyum dengan caramu
sendiri, karna semua itu dapat mengarahkanku pada kebahagiaan.
Sebenarnya
aku tak pernah lelah menuliskan di buku diary ku ini. Terkadang, aku ingin
menghentikan kebiasaan yang selalu terlintas di keseharianku. Namun, aku tak
bisa. Aku tak bisa melakukannya. Karna itu hanya membuatku larut dalam
kesedihan. Jadi, inilah caraku untuk membuang kesedihan yang sedang aku
rasakan. Sehingga aku selalu menyempatkan waktu untuk bercerita tentangmu di
buku kecilku. Harapanku, kelak kamu tau tentang hal apa saja yang selama ini
aku pendam.
Aku
malu, rasanya berat sekali bila bertemu denganmu. Semua aku lakukan karna aku
ingin menghidari menatap wajahmu secara berlebihan. Mungkinkah aku salah jika
mempunyai rasa denganmu. Ya Allah…maafkan aku. Aku tak bisa menghilangkan rasa
ini. Aku yakin, bila aku dan dia berjodoh, maka tak akan pernah mampu lari jauh
walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Jika memang kita berjodoh, kelak kita
akan bertemu di waktu yang tepat. Semoga saja kamu masih mencariku setelah
pulang dari kepergianmu.
Kamu..iya
kamu. Hariku serasa lebih indah setelah kamu hadir dalam kehidupanku. Aku
sangat beruntung berjumpa denganmu meskipun dalam ketidaksengajaan. Sampai
sekangpun, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Meskipun ada rasa
yang terpendam dalam diriku. Aku tak inginkan kamu seperti teman-teman yang
lain. Aku merasa geli melihat di sepanjang hiruk pikuk perjalanan waktu.
Seringkali ku melihat pasangan yang memamerkan kemesraannya. Mungkin mereka
lebih senang bila kesana kemari bersama orang yang dicintainya. Namun, aku tak
inginkan itu. Karena itulah pilihanku, aku yakin akan ada ruang bagi kejutan
yang tak mampu diprediksi.
Mungkin
cara ini lebih baik. Selain untuk menjaga diri, kita juga bisa menghindarkan
diri dari segala sesuatu yang berujung pada hal yang negative. Cukup sederhana
saja, semoga kita bisa menjaga satu sama lain. Lebih baik kita menjaga diri dan
menguatkan diri kita terlebih dahulu.
Menangisku
dalam do’a mungkin tak cukup bagiku. Mungkin belum mampu menghapus kesedihanku
selama ini. Selalu ku pendam sendiri dan menceritakan ceritaku ini kepada-NYA.
Mungkin akan ada jawaban tanpa harus aku tanyakan kepadamu tentang sesuatu yang
sedang aku pikirkan sekarang. Aku hanya inginkan kamu percaya saja. InsyaAllah
aku akan selalu menjaga perasaan ini hanya untukmu tanpa ada suatu ikatan
‘’pacaran’’. Menurutku, inilah yang ingin aku jalani bersamamu. Yang aku harap…
kau pun begitu.
Terimakasih telah membaca segala curahan hatiku ini. Maafkan jika tak ada
sesuatu yang special dariku, karena aku tak punya apa-apa. Aku hanya berusaha
menjadi seseorang yang lebih baik dan semoga kau bisa mengarahkanku untuk
menuju kesana.
Aku
memang tak pernah tau bagaimana caramu mencintaiku. Tapi aku yakin, dibalik
kediamanmu itu ada maksud tertentu dan itulah yang terbaik untuk kita. Semoga
kita bisa menjaga satu sama lain. Meskipun sekarang jarakmu berjauhan denganku.
Disini, aku selalu merindukanmu. Meskipun tak jarang kau mengabariku, aku akan
selalu percaya, aku yakin kau akan selalu setia bersamaku.
Maafkan
jika terlalu banyak kata yang terulang-terulang dibuku yang aku berikan
kepadamu ini. Karena memang berlembar-lembar cerita yang tertulis di buku diary
ku berisi tentang itu, sampai berulang-ulang aku menulisnya. Namun, aku tak
pernah bosan membaca halaman sebelumnya.
Terlintas
dalam pikiranku adalah menunggu kabar darimu. Seringkali, aku memang tak inginkn
memulai percakapan terlebih dahulu darimu. Bukan karena aku tak peduli padamu,
bukan karena aku sudah melupakanmu, bukan karena aku tak mengkhawatirkanmu,
bukan karena aku sedang marah padamu, bukan karena sudah ada seseorang yang
mampu menggantikanmu untuk mengisi hariku, bukan karena kau kurang sempurna
untukku, bukan karena aku sudah tak memiliki rasa yang special lagi untukmu..
Tapi karena itulah caraku untuk menjaga perasaan ini untukmu.
Aku
memang menyayangimu, maafkan jika aku terlalu berlebihan. Hanya lewat tulisan
inilah aku menceritakan apa saja yang aku rasakan selama adanya dirimu. Jaga
kesehatanmu selalu ya disana. Disini aku selalu mendo’akanmu sekeluarga. Jangan
lupakan aku meskipun sekarang kita berjauhan. Jika kau tak sedang sibuk,
berilah kabar tentangmu untukku. Karna aku sangat mengkhawatirkanmu.
Maaf
jika kau merasa jenuh membaca semua tulisanku ini. Aku sangat senang jika kini
kau telah mengerti apa hal yang aku pendam selama ini. Aku hanya butuh waktu
yang tepat untukku menceritakan semua ini padamu.
Pernah
terlintas olehku untuk dapat menemuimu sebelum kau bergegas menempuh pekerjaan.
Sore ini, aku berharap ada sesuatu yang special yang dapat aku kenang nantinya.
Dan harapan itu terwujud. Aku sangat senang sekali saat lebaran kemarin bisa
berjumpa denganmu. Maafkan jika aku terdiam, sebenarnya terlalu banyak hal yang
ingin aku ceritakan hingga akupun berusaha menyimpan lagi, lagi dan lagi.
Terimakasih telah memberikan sesuatu yang berharga untukku. Terimakasih telah
merubahku menjadi pribadi yang lebih baik. Bahagiaku adalah ketika seseorang
merasa bahagia akan kehadiranku disisinya dan bahagiaku pula ialah ketika
melihatmu tersenyum. Aku inginkan detik itu akan dapat berulir kembali.
Semoga
Allah berikan umur yang panjang dan selalu melindungimu. Jadilah anak yang
berbakti kepada orangtua. Aku tau, ada keluarga yang sedang membutuhkanmu,
Bahagiankanlah mereka terdahulu. Maka kamu akan merasakan bahwa kamu tak
sanggup hidup bersama orang-orang yang kamu sayang. Yang terpenting adalah
jangan lupa untuk selalu beribadah, sesibuk apapun kamu. InsyaAllah semua yang
kamu lakukan tidak akan sia-sia dan akan diberi kemudahan oleh Allah Swt.
Semoga
bingkisan terakhirku ini sangat bermakna untukmu. Walaupun hanya lembaran
kertas yang berlumuran goresan tinta hitam saja. Disini, aku selalu berharap,
dalam sunyi, dalam kediaman. Dalam hari-hari yang penuh harap. Sejujurnya, aku
tak sanggup melepas kepergianmu bergitu saja. Untuk saat ini, aku hanya
membutuhkan teman seperti pohon, yang selalu setia menemaniku, yang mampu
menyerap air mataku tanpa satupun orang yang tau. Kini, biarlah rintihan air
mataku melebur, terseret oleh angin dan derasnya air hujan. Terimakasih, kau
telah membuka bingkisanku ini secara perlahan, membacanya kata demi kata.
Ig: