Kamis, 25 Januari 2018

Bingkisan Surat Terakhirku



Bingkisan Surat Terakhirku

Oleh : Nur Aviana, S.E.

 

Petangku, kini tak sempat berbalas dengannya. Bersandar ku di sudut pojok kamar dengan bergenggam jari jemari yang lambat laun makin merubah suhunya. Entah apa yang ku rasa, semua berkumpul menjadi satu, merasuk di dalam pikiran.
Petangku, kini tak sempat berbalas dengannya. Yang ada, kini hanyalah diriku yang bergenggam kertas putih diatas meja belajar.

Aku tak tau apa yang kini kurasakan. Dia masih saja mengusik diriku. Yang aku tau hidupku terasa lebih indah sejak berpapasan pertama kali denganmu. Ku pikir kini diriku sudah lupa ternyata rasa itu masih ada. Sementara itu, foto yang bersandar dibawah ventilasi kamar dengan bingkainya yang nian indah dan berbalut pita di setiap ujungnya itu terus mengamatiku dari kejauhan.

Iya, aku selalu teringat dia yang selalu ada ketika diriku tak kuat menahan tangis di pelupuk mata. Kapan lagi dia datang, mengisi hari-hariku seperti dahulu kala. Yang ada, hanya sisa pesan yang pernah ia lontakan di tiap waktu senggangnya. Apalah dayaku, yang hanya mampu membaca berulangkali demi menghibur hati agar serasa seperti dahulu.

Dibalik persembunyianku ini ada hati yang ku tunggu yaitu kamu. Aku hanya ingin bersabar, berharap akan ada kejutan dibalik rahasiaku yang terpendam. Daripada memaksa, yang akan menghempaskan sakitnya perasaan kecewa. Hingga akupun berpikir, lebih baik memendam harapanku ini yang tak sempat terlabuhkan. Meskipun ada rasa yang hinggap dihatiku, aku masih tak mengerti, apakah sanggup untuk aku pertahankan? Sampai sekarang aku tak tau, karena dibalik suatu jawaban pasti akan ada ruang untuk pilihan.
Meskipun kamu sering diamkan aku, tapi aku yakin mungkin ini caramu untuk menyimpan perasaanmu padaku.

Maafkan jika selama ini aku hanya berdiam pula, aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat saja. Sebenarnya dalam hatiku sering menggerutu jika lama tak ada kabar darimu. Aku hanya bisa menunggu. Sesingkat apapun pesan yang kau kirimkan, semua itu sangatlah berharga bagiku dan masih ku simpan sampai sekarang. Seringkali aku memang merindumu, tapi apalah dayaku. Karena semua itu membutuhkan kesabaran.

Maafkan jika selama ini aku punya salah, mungkin saja terkadang aku berburuk sangka terhadapmu karna kau sering tak memberikan sedikitpun kabar untukku, dan itu hanya ku pendam sendiri. Aku memang seperti ini, aku hanya wanita yang selalu dalam kediaman dan memendam cerita sendiri. Jujur, aku sangat malu apabila bertemu denganmu untuk menceritakan perihal tentangku. Bahkan, untuk menghubungi lewat sms atau telepon pun aku merasa malu.

Maafkan jika aku sering mengkhawatirkanmu. Karna diammu memberikan ruang bagiku untuk merasa takut. Namun, sebenarnya aku tak bermaksud seperti itu, hanya saja rasa ini selalu hadir, karna yang ku tau mungkin rinduku tak akan sempat terucap padamu. Bagiku, tiap hari akan terasa lebih indah karna telah ada sosok lelaki sepertimu. Karna itulah aku selalu percaya diri dan optimis dalam melakukan sesuatu. Aku yakin bahwa kau akan berikan yang terbaik untukkku pada waktunya.

Andaikan kamu tau, hari serasa sunyi dan sepi ditiap pagiku. Hanya nyanyian burung dan sapaan mentari yang mampu mengisi keceriaan hatiku. Sebenarnya, aku sendiri merasakan sakitnya rasa yang tak terkatakan. Rasa yang hanya mampu didekap dalam bungkam kediaman. Bahkan diam dalam berbicara karna tak sedikitpun kamu bertegur sapa denganku.

Masih dalam segudang rasa penasaranku. Terkadang, aku mengerutkan kening karena menunggu kehadiranmu. Namun, aku tak bisa menemuimu. Iya, aku hanya inginkan waktu yang tepat. Aku rasa sekarang kita hanya bisa menjaga satu sama lain.

Hari-hariku adalah penantian. Hanya lewat penantian dan kesabaran kita akan dipersatukan. Rasa gelisah pasti selalu berselimut dalam hatiku. Mungkin saja menjadi rutinitas di tiap hariku. Tak jarang aku merasa seperti bulan yang berjalan sendiri tanpa adanya bintang. Malam petangku pun menjadi suasana penuh harap. Berharap kita sedang menatap bintang dalam waktu bersamaan.

Rasa ingin tau selalu mendera dalam hidupku. Bagaimana kabarmu disana? Apakah kamu baik-baik saja? Itu yang selalu terlintas dalam ubun-ubunku seketika merindukanmu. Memandangimu dalam realita mungkin sedikit perih. Meski hanya dalam sebuah mimpi yang dikata orang mimpi hanya sebatas semu belaka. Tapi, aku selalu berpikir positif. Aku yakin bahwa kamu akan selalu menjaga sesuatu yang engkau rasakan. Aku hanya tak inginkan kau membuatku menguras kesedihan, karena perasaan tak sekedar diremehkan. Semoga saja kau tak seperti orang yang memancing ikan dan mencoba untuk melepaskannya begitu saja. Karna ikan yang telah terjerat, akan merasa sakit pabila dilepaskan begitu saja.

Seringkali ku sendiri bersandar di jendela, meneteskan air mata dan berharap kamu datang sambil melontarkan senyuman padaku. Mungkin semua itu dapat membuatku lebih bahagia. Tapi seperti inilH, berdiam adalah caraku untuk menjaga diriku sendiri. Yang aku inginkan, kamu mampu membuatku tersenyum dengan caramu sendiri, karna semua itu dapat mengarahkanku pada kebahagiaan.

Sebenarnya aku tak pernah lelah menuliskan di buku diary ku ini. Terkadang, aku ingin menghentikan kebiasaan yang selalu terlintas di keseharianku. Namun, aku tak bisa. Aku tak bisa melakukannya. Karna itu hanya membuatku larut dalam kesedihan. Jadi, inilah caraku untuk membuang kesedihan yang sedang aku rasakan. Sehingga aku selalu menyempatkan waktu untuk bercerita tentangmu di buku kecilku. Harapanku, kelak kamu tau tentang hal apa saja yang selama ini aku pendam.

Aku malu, rasanya berat sekali bila bertemu denganmu. Semua aku lakukan karna aku ingin menghidari menatap wajahmu secara berlebihan. Mungkinkah aku salah jika mempunyai rasa denganmu. Ya Allah…maafkan aku. Aku tak bisa menghilangkan rasa ini. Aku yakin, bila aku dan dia berjodoh, maka tak akan pernah mampu lari jauh walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Jika memang kita berjodoh, kelak kita akan bertemu di waktu yang tepat. Semoga saja kamu masih mencariku setelah pulang dari kepergianmu.

Kamu..iya kamu. Hariku serasa lebih indah setelah kamu hadir dalam kehidupanku. Aku sangat beruntung berjumpa denganmu meskipun dalam ketidaksengajaan. Sampai sekangpun, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Meskipun ada rasa yang terpendam dalam diriku. Aku tak inginkan kamu seperti teman-teman yang lain. Aku merasa geli melihat di sepanjang hiruk pikuk perjalanan waktu. Seringkali ku melihat pasangan yang memamerkan kemesraannya. Mungkin mereka lebih senang bila kesana kemari bersama orang yang dicintainya. Namun, aku tak inginkan itu. Karena itulah pilihanku, aku yakin akan ada ruang bagi kejutan yang tak mampu diprediksi.

Mungkin cara ini lebih baik. Selain untuk menjaga diri, kita juga bisa menghindarkan diri dari segala sesuatu yang berujung pada hal yang negative. Cukup sederhana saja, semoga kita bisa menjaga satu sama lain. Lebih baik kita menjaga diri dan menguatkan diri kita terlebih dahulu.

Menangisku dalam do’a mungkin tak cukup bagiku. Mungkin belum mampu menghapus kesedihanku selama ini. Selalu ku pendam sendiri dan menceritakan ceritaku ini kepada-NYA. Mungkin akan ada jawaban tanpa harus aku tanyakan kepadamu tentang sesuatu yang sedang aku pikirkan sekarang. Aku hanya inginkan kamu percaya saja. InsyaAllah aku akan selalu menjaga perasaan ini hanya untukmu tanpa ada suatu ikatan ‘’pacaran’’. Menurutku, inilah yang ingin aku jalani bersamamu. Yang aku harap… kau pun begitu.
Terimakasih telah membaca segala curahan hatiku ini. Maafkan jika tak ada sesuatu yang special dariku, karena aku tak punya apa-apa. Aku hanya berusaha menjadi seseorang yang lebih baik dan semoga kau bisa mengarahkanku untuk menuju kesana.

Aku memang tak pernah tau bagaimana caramu mencintaiku. Tapi aku yakin, dibalik kediamanmu itu ada maksud tertentu dan itulah yang terbaik untuk kita. Semoga kita bisa menjaga satu sama lain. Meskipun sekarang jarakmu berjauhan denganku. Disini, aku selalu merindukanmu. Meskipun tak jarang kau mengabariku, aku akan selalu percaya, aku yakin kau akan selalu setia bersamaku.

Maafkan jika terlalu banyak kata yang terulang-terulang dibuku yang aku berikan kepadamu ini. Karena memang berlembar-lembar cerita yang tertulis di buku diary ku berisi tentang itu, sampai berulang-ulang aku menulisnya. Namun, aku tak pernah bosan membaca halaman sebelumnya.

Terlintas dalam pikiranku adalah menunggu kabar darimu. Seringkali, aku memang tak inginkn memulai percakapan terlebih dahulu darimu. Bukan karena aku tak peduli padamu, bukan karena aku sudah melupakanmu, bukan karena aku tak mengkhawatirkanmu, bukan karena aku sedang marah padamu, bukan karena sudah ada seseorang yang mampu menggantikanmu untuk mengisi hariku, bukan karena kau kurang sempurna untukku, bukan karena aku sudah tak memiliki rasa yang special lagi untukmu.. Tapi karena itulah caraku untuk menjaga perasaan ini untukmu.

Aku memang menyayangimu, maafkan jika aku terlalu berlebihan. Hanya lewat tulisan inilah aku menceritakan apa saja yang aku rasakan selama adanya dirimu. Jaga kesehatanmu selalu ya disana. Disini aku selalu mendo’akanmu sekeluarga. Jangan lupakan aku meskipun sekarang kita berjauhan. Jika kau tak sedang sibuk, berilah kabar tentangmu untukku. Karna aku sangat mengkhawatirkanmu.

Maaf jika kau merasa jenuh membaca semua tulisanku ini. Aku sangat senang jika kini kau telah mengerti apa hal yang aku pendam selama ini. Aku hanya butuh waktu yang tepat untukku menceritakan semua ini padamu.

Pernah terlintas olehku untuk dapat menemuimu sebelum kau bergegas menempuh pekerjaan. Sore ini, aku berharap ada sesuatu yang special yang dapat aku kenang nantinya. Dan harapan itu terwujud. Aku sangat senang sekali saat lebaran kemarin bisa berjumpa denganmu. Maafkan jika aku terdiam, sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin aku ceritakan hingga akupun berusaha menyimpan lagi, lagi dan lagi. Terimakasih telah memberikan sesuatu yang berharga untukku. Terimakasih telah merubahku menjadi pribadi yang lebih baik. Bahagiaku adalah ketika seseorang merasa bahagia akan kehadiranku disisinya dan bahagiaku pula ialah ketika melihatmu tersenyum. Aku inginkan detik itu akan dapat berulir kembali.

Semoga Allah berikan umur yang panjang dan selalu melindungimu. Jadilah anak yang berbakti kepada orangtua. Aku tau, ada keluarga yang sedang membutuhkanmu, Bahagiankanlah mereka terdahulu. Maka kamu akan merasakan bahwa kamu tak sanggup hidup bersama orang-orang yang kamu sayang. Yang terpenting adalah jangan lupa untuk selalu beribadah, sesibuk apapun kamu. InsyaAllah semua yang kamu lakukan tidak akan sia-sia dan akan diberi kemudahan oleh Allah Swt.

Semoga bingkisan terakhirku ini sangat bermakna untukmu. Walaupun hanya lembaran kertas yang berlumuran goresan tinta hitam saja. Disini, aku selalu berharap, dalam sunyi, dalam kediaman. Dalam hari-hari yang penuh harap. Sejujurnya, aku tak sanggup melepas kepergianmu bergitu saja. Untuk saat ini, aku hanya membutuhkan teman seperti pohon, yang selalu setia menemaniku, yang mampu menyerap air mataku tanpa satupun orang yang tau. Kini, biarlah rintihan air mataku melebur, terseret oleh angin dan derasnya air hujan. Terimakasih, kau telah membuka bingkisanku ini secara perlahan, membacanya kata demi kata.

Nur Aviana
Ig: @nur_aviana

Senin, 04 September 2017

Hadiah Setangkai Aksara Untukmu


Dibalik persembunyianku ini ada hati yang ku tunggu yaitu kamu. Aku hanya ingin bersabar, berharap akan ada kejutan dibalik rahasiaku yang terpendam. Daripada memaksa, yang akan menghempaskan sakitnya perasaan kecewa. Hingga akupun berpikir, lebih baik memendam harapanku ini yang tak sempat terlabuhkan. Meskipun ada rasa yang hinggap dihatiku, aku masih tak mengerti, apakah sanggup untuk aku pertahankan?  Sampai sekarang aku tak tau, karena dibalik suatu jawaban pasti akan ada ruang untuk pilihan.
Meskipun kamu sering diamkan aku, tapi aku yakin mungkin ini caramu untuk menyimpan perasaanmu padaku. Maafkan jika selama ini aku hanya berdiam pula, aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat saja. Sebenarnya dalam hatiku sering menggerutu jika lama tak ada kabar darimu. Aku hanya bisa menunggu. Sesingkat apapun pesan yang kau kirimkan, semua itu sangatlah berharga bagiku dan masih ku simpan sampai sekarang. Seringkali aku memang merindumu, tapi apalah dayaku. Karena semua itu membutuhkan kesabaran.
            Maafkan jika selama ini aku punya salah, mungkin saja terkadang aku berburuk sangka terhadapmu karna kau sering tak memberikan sedikitpun kabar untukku, dan itu hanya ku pendam sendiri. Aku memang seperti ini, aku hanya wanita yang selalu dalam kediaman dan memendam cerita sendiri. Jujur, aku sangat malu apabila bertemu denganmu untuk menceritakan perihal tentangku. Bahkan, untuk menghubungi lewat sms atau telepon pun aku merasa malu. Untuk itu, aku menulis surat ini yang bisa dikatakan ringkasan dari buku diary ku.
            Maafkan jika aku sering mengkhawatirkanmu. Karna diammu memberikan ruang bagiku untuk merasa takut. Namun, sebenarnya aku tak bermaksud seperti itu, hanya saja rasa ini selalu hadir, karna yang ku tau mungkin rinduku tak akan sempat terucap padamu. Bagiku, tiap hari akan terasa lebih indah karna telah ada sosok lelaki sepertimu. Karna itulah aku selalu percaya diri dan optimis dalam melakukan sesuatu. Aku yakin bahwa kau akan berikan yang terbaik untukkku pada waktunya.
            Andaikan kamu tau, hari serasa sunyi dan sepi ditiap pagiku. Hanya nyanyian burung dan sapaan mentari yang mampu mengisi keceriaan hatiku. Sebenarnya, aku sendiri merasakan sakitnya rasa yang tak terkatakan. Rasa yang hanya mampu didekap dalam bungkam kediaman. Bahkan diam dalam berbicara karna tak sedikitpun kamu bertegur sapa denganku.
            Masih dalam segudang rasa penasaranku. Terkadang, aku mengerutkan kening karena menunggu kehadiranmu. Namun, aku tak bisa menemuimu. Iya, aku hanya inginkan waktu yang tepat. Aku rasa sekarang kita hanya bisa menjaga satu sama lain.
            Hari-hariku adalah penantian. Hanya lewat penantian dan kesabaran kita akan dipersatukan. Rasa gelisah pasti selalu berselimut dalam hatiku. Mungkin saja menjadi rutinitas di tiap hariku. Tak jarang aku merasa seperti bulan yang berjalan sendiri tanpa adanya bintang. Malam petangku pun menjadi suasana penuh harap. Berharap kita sedang menatap bintang dalam waktu bersamaan.
            Rasa ingin tau selalu mendera dalam hidupku. Bagaimana kabarmu disana? Apakah kamu baik-baik saja? Itu yang selalu terlintas dalam ubun-ubunku seketika merindukanmu. Memandangimu dalam realita mungkin sedikit perih. Meski hanya dalam sebuah mimpi yang dikata orang mimpi hanya sebatas semu belaka. Tapi, aku selalu berpikir positif. Aku yakin bahwa kamu akan selalu menjaga sesuatu yang engkau rasakan. Aku hanya tak inginkan kau membuatku menguras kesedihan, karena perasaan tak sekedar diremehkan. Semoga saja kau tak seperti orang yang memancing ikan dan mencoba untuk melepaskannya begitu saja. Karna ikan yang telah terjerat, akan merasa sakit pabila dilepaskan begitu saja.
            Seringkali ku sendiri bersandar di jendela, meneteskan air mata dan berharap kamu datang sambil melontarkan senyuman padaku. Mungkin semua itu dapat membuatku lebih bahagia. Tapi seperti inilH, berdiam adalah caraku untuk menjaga diriku sendiri. Yang aku inginkan, kamu mampu membuatku tersenyum dengan caramu sendiri, karna semua itu dapat mengarahkanku pada kebahagiaan.
            Sebenarnya aku tak pernah lelah menuliskan di buku diary ku ini. Terkadang, aku ingin menghentikan kebiasaan yang selalu terlintas di keseharianku. Namun, aku tak bisa. Aku tak bisa melakukannya. Karna itu hanya membuatku larut dalam kesedihan. Jadi, inilah caraku untuk membuang kesedihan yang sedang aku rasakan. Sehingga aku selalu menyempatkan waktu untuk bercerita tentangmu di buku kecilku. Harapanku, kelak kamu tau tentang hal apa saja yang selama ini aku pendam.
            Aku malu, rasanya berat sekali bila bertemu denganmu. Semua aku lakukan karna aku ingin menghidari menatap wajahmu secara berlebihan. Mungkinkah aku salah jika mempunyai rasa denganmu. Ya Allah…maafkan aku.  Aku tak bisa menghilangkan rasa ini. Aku yakin, bila aku dan dia berjodoh, maka tak akan pernah mampu lari jauh walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Jika memang kita berjodoh, kelak kita akan bertemu di waktu yang tepat. Semoga saja kamu masih mencariku setelah pulang dari kepergianmu.
            Kamu..iya kamu. Hariku serasa lebih indah setelah kamu hadir dalam kehidupanku. Aku sangat beruntung berjumpa denganmu meskipun dalam ketidaksengajaan. Sampai sekangpun, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Meskipun ada rasa yang terpendam dalam diriku. Aku tak inginkan kamu seperti teman-teman yang lain. Aku merasa geli melihat di sepanjang hiruk pikuk perjalanan waktu. Seringkali ku melihat pasangan yang memamerkan kemesraannya. Mungkin mereka lebih senang bila kesana kemari bersama orang yang dicintainya. Namun, aku tak inginkan itu. Karena itulah pilihanku, aku yakin akan ada ruang bagi kejutan yang tak mampu diprediksi.
            Mungkin cara ini lebih baik. Selain untuk menjaga diri, kita juga bisa menghindarkan diri dari segala sesuatu yang berujung pada hal yang negative. Cukup sederhana saja, semoga kita bisa menjaga satu sama lain J. Lebih baik kita menjaga diri dan menguatkan diri kita terlebih dahulu
            Menangisku dalam do’a mungkin tak cukup bagiku. Mungkin belum mampu menghapus kesedihanku selama ini. Selalu ku pendam sendiri dan menceritakan ceritaku ini kepada-NYA. Mungkin akan ada jawaban tanpa harus aku tanyakan kepadamu tentang sesuatu yang sedang aku pikirkan sekarang. Aku hanya inginkan kamu percaya saja. InsyaAllah aku akan selalu menjaga perasaan ini hanya untukmu tanpa ada suatu ikatan ‘’pacaran’’.  Menurutku, inilah yang ingin aku jalani bersamamu. Yang aku harap… kau pun begitu J.
            Terimakasih telah membaca segala curahan hatiku ini. Maafkan jika tak ada sesuatu yang special dariku, karena aku tak punya apa-apa. Aku hanya berusaha menjadi seseorang yang lebih baik dan semoga kau bisa mengarahkanku untuk menuju kesana J.
            Aku memang tak pernah tau bagaimana caramu mencintaiku. Tapi aku yakin, dibalik kediamanmu itu ada maksud tertentu dan itulah yang terbaik untuk kita. Semoga kita bisa menjaga satu sama lain. Meskipun sekarang jarakmu berjauhan denganku. Disini, aku selalu merindukanmu. Meskipun tak jarang kau mengabariku, aku akan selalu percaya, aku yakin kau akan selalu setia bersamaku.
            Maafkan jika terlalu banyak kata yang terulang-terulang dibuku yang aku berikan kepadamu ini. Karena memang berlembar-lembar cerita yang tertulis di buku diary ku berisi tentang itu, sampai berulang-ulang aku menulisnya. Namun, aku tak pernah bosan membaca halaman sebelumnya.
            Terlintas dalam pikiranku adalah menunggu kabar darimu. Seringkali, aku memang tak inginkan memulai percakapan terlebih dahulu darimu. Bukan karena aku tak peduli padamu, bukan karena aku sudah melupakanmu, bukan karena aku tak mengkhawatirkanmu, bukan karena aku sedang marah padamu, bukan karena sudah ada seseorang yang mampu menggantikanmu untuk mengisi hariku, bukan karena kau kurang sempurna untukku, bukan karena aku sudah tak memiliki rasa yang special lagi untukmu.. Tapi karena itulah caraku untuk menjaga perasaan ini untukmu.
            Aku memang menyayangimu, maafkan jika aku terlalu berlebihan. Hanya lewat tulisan inilah aku menceritakan apa saja yang aku rasakan selama adanya dirimu.
            Untukmu... jaga kesehatanmu selalu ya disana. Disini aku selalu mendo’akanmu sekeluarga. Jangan lupakan aku meskipun sekarang kita berjauhan. Jika kau tak sedang sibuk, berilah kabar tentangmu untukku. Karna aku sangat mengkhawatirkanmu.
            Maaf jika kau merasa jenuh membaca semua tulisanku ini. Aku sangat senang jika kini kau telah mengerti apa hal yang aku pendam selama ini. Aku hanya butuh waktu yang tepat untukku menceritakan semua ini padamu.
            Sebelumnya, pernah terlintas olehku untuk dapat menemuimu sebelum kau bergegas menempuh pekerjaan. Sore ini, aku berharap ada sesuatu yang spesial yang dapat aku kenang nantinya. Dan harapan itu terwujud.
            Aku sangat senang sekali saat lebaran kemarin bisa berjumpa denganmu. Maafkan jika aku terdiam, sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin aku ceritakan hingga akupun berusaha menyimpan lagi, lagi dan lagi. Terimakasih telah memberikan sesuatu yang berharga untukku. Terimakasih telah merubahku menjadi pribadi yang lebih baik. Bahagiaku adalah ketika seseorang merasa bahagia akan kehadiranku disisinya dan bahagiaku pula ialah ketika melihatmu tersenyum. Aku inginkan detik itu akan dapat berulir kembali. Terimakasih ya telah menyempatkan waktumu untuk membaca ringkasan dari keseluruhan buku diary ku.
            Selamat ulangtahun. . . Semoga Allah berikan umur yang panjang dan selalu melindungimu. Jadilah seseorang yang berbakti kepada orangtua. Aku tau, ada keluarga yang sedang membutuhkanmu, Bahagiankanlah mereka terdahulu. Maka kamu akan merasakan bahwa kamu tak sanggup hidup bersama orang-orang yang kamu sayang. Yang terpenting adalah jangan lupa untuk selalu beribadah, sesibuk apapun kamu. InsyaAllah semua yang kamu lakukan tidak akan sia-sia dan akan diberi kemudahan oleh Allah Swt.
Aku menyayangimu….
           Maaf jikalau aku hanya memberikan hadiah berupa aksara-aksara ini. Aku tak tau apakah ini berarti untukmu. Semoga kau selalu dalam lindungan-NYA.
Pekalongan, 8 Juli 2017