Dibalik persembunyianku
ini ada hati yang ku tunggu yaitu kamu. Aku hanya ingin bersabar, berharap akan
ada kejutan dibalik rahasiaku yang terpendam. Daripada memaksa, yang akan
menghempaskan sakitnya perasaan kecewa. Hingga akupun berpikir, lebih baik memendam
harapanku ini yang tak sempat terlabuhkan. Meskipun ada rasa yang hinggap
dihatiku, aku masih tak mengerti, apakah sanggup untuk aku pertahankan? Sampai sekarang aku tak tau, karena dibalik
suatu jawaban pasti akan ada ruang untuk pilihan.
Meskipun kamu sering
diamkan aku, tapi aku yakin mungkin ini caramu untuk menyimpan perasaanmu
padaku. Maafkan jika selama ini aku hanya berdiam pula, aku hanya ingin
menunggu waktu yang tepat saja. Sebenarnya dalam hatiku sering menggerutu jika
lama tak ada kabar darimu. Aku hanya bisa menunggu. Sesingkat apapun pesan yang
kau kirimkan, semua itu sangatlah berharga bagiku dan masih ku simpan sampai
sekarang. Seringkali aku memang merindumu, tapi apalah dayaku. Karena semua itu
membutuhkan kesabaran.
Maafkan
jika selama ini aku punya salah, mungkin saja terkadang aku berburuk sangka
terhadapmu karna kau sering tak memberikan sedikitpun kabar untukku, dan itu
hanya ku pendam sendiri. Aku memang seperti ini, aku hanya wanita yang selalu
dalam kediaman dan memendam cerita sendiri. Jujur, aku sangat malu apabila
bertemu denganmu untuk menceritakan perihal tentangku. Bahkan, untuk
menghubungi lewat sms atau telepon pun aku merasa malu. Untuk itu, aku menulis
surat ini yang bisa dikatakan ringkasan dari buku diary ku.
Maafkan
jika aku sering mengkhawatirkanmu. Karna diammu memberikan ruang bagiku untuk
merasa takut. Namun, sebenarnya aku tak bermaksud seperti itu, hanya saja rasa
ini selalu hadir, karna yang ku tau mungkin rinduku tak akan sempat terucap
padamu. Bagiku, tiap hari akan terasa lebih indah karna telah ada sosok lelaki
sepertimu. Karna itulah aku selalu percaya diri dan optimis dalam melakukan
sesuatu. Aku yakin bahwa kau akan berikan yang terbaik untukkku pada waktunya.
Andaikan
kamu tau, hari serasa sunyi dan sepi ditiap pagiku. Hanya nyanyian burung dan
sapaan mentari yang mampu mengisi keceriaan hatiku. Sebenarnya, aku sendiri
merasakan sakitnya rasa yang tak terkatakan. Rasa yang hanya mampu didekap
dalam bungkam kediaman. Bahkan diam dalam berbicara karna tak sedikitpun kamu
bertegur sapa denganku.
Masih
dalam segudang rasa penasaranku. Terkadang, aku mengerutkan kening karena
menunggu kehadiranmu. Namun, aku tak bisa menemuimu. Iya, aku hanya inginkan
waktu yang tepat. Aku rasa sekarang kita hanya bisa menjaga satu sama lain.
Hari-hariku
adalah penantian. Hanya lewat penantian dan kesabaran kita akan dipersatukan. Rasa
gelisah pasti selalu berselimut dalam hatiku. Mungkin saja menjadi rutinitas di
tiap hariku. Tak jarang aku merasa seperti bulan yang berjalan sendiri tanpa
adanya bintang. Malam petangku pun menjadi suasana penuh harap. Berharap kita
sedang menatap bintang dalam waktu bersamaan.
Rasa
ingin tau selalu mendera dalam hidupku. Bagaimana kabarmu disana? Apakah kamu
baik-baik saja? Itu yang selalu terlintas dalam ubun-ubunku seketika
merindukanmu. Memandangimu dalam realita mungkin sedikit perih. Meski hanya
dalam sebuah mimpi yang dikata orang mimpi hanya sebatas semu belaka. Tapi, aku
selalu berpikir positif. Aku yakin bahwa kamu akan selalu menjaga sesuatu yang
engkau rasakan. Aku hanya tak inginkan kau membuatku menguras kesedihan, karena
perasaan tak sekedar diremehkan. Semoga saja kau tak seperti orang yang
memancing ikan dan mencoba untuk melepaskannya begitu saja. Karna ikan yang
telah terjerat, akan merasa sakit pabila dilepaskan begitu saja.
Seringkali
ku sendiri bersandar di jendela, meneteskan air mata dan berharap kamu datang
sambil melontarkan senyuman padaku. Mungkin semua itu dapat membuatku lebih bahagia.
Tapi seperti inilH, berdiam adalah caraku untuk menjaga diriku sendiri. Yang
aku inginkan, kamu mampu membuatku tersenyum dengan caramu sendiri, karna semua
itu dapat mengarahkanku pada kebahagiaan.
Sebenarnya
aku tak pernah lelah menuliskan di buku diary ku ini. Terkadang, aku ingin
menghentikan kebiasaan yang selalu terlintas di keseharianku. Namun, aku tak
bisa. Aku tak bisa melakukannya. Karna itu hanya membuatku larut dalam
kesedihan. Jadi, inilah caraku untuk membuang kesedihan yang sedang aku
rasakan. Sehingga aku selalu menyempatkan waktu untuk bercerita tentangmu di
buku kecilku. Harapanku, kelak kamu tau tentang hal apa saja yang selama ini
aku pendam.
Aku
malu, rasanya berat sekali bila bertemu denganmu. Semua aku lakukan karna aku ingin
menghidari menatap wajahmu secara berlebihan. Mungkinkah aku salah jika mempunyai
rasa denganmu. Ya Allah…maafkan aku. Aku
tak bisa menghilangkan rasa ini. Aku yakin, bila aku dan dia berjodoh, maka tak
akan pernah mampu lari jauh walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu. Jika
memang kita berjodoh, kelak kita akan bertemu di waktu yang tepat. Semoga saja kamu
masih mencariku setelah pulang dari kepergianmu.
Kamu..iya
kamu. Hariku serasa lebih indah setelah kamu hadir dalam kehidupanku. Aku
sangat beruntung berjumpa denganmu meskipun dalam ketidaksengajaan. Sampai
sekangpun, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Meskipun ada rasa
yang terpendam dalam diriku. Aku tak inginkan kamu seperti teman-teman yang
lain. Aku merasa geli melihat di sepanjang hiruk pikuk perjalanan waktu. Seringkali
ku melihat pasangan yang memamerkan kemesraannya. Mungkin mereka lebih senang
bila kesana kemari bersama orang yang dicintainya. Namun, aku tak inginkan itu.
Karena itulah pilihanku, aku yakin akan ada ruang bagi kejutan yang tak mampu
diprediksi.
Mungkin
cara ini lebih baik. Selain untuk menjaga diri, kita juga bisa menghindarkan
diri dari segala sesuatu yang berujung pada hal yang negative. Cukup sederhana
saja, semoga kita bisa menjaga satu sama lain J. Lebih baik
kita menjaga diri dan menguatkan diri kita terlebih dahulu
Menangisku
dalam do’a mungkin tak cukup bagiku. Mungkin belum mampu menghapus kesedihanku
selama ini. Selalu ku pendam sendiri dan menceritakan ceritaku ini kepada-NYA.
Mungkin akan ada jawaban tanpa harus aku tanyakan kepadamu tentang sesuatu yang
sedang aku pikirkan sekarang. Aku hanya inginkan kamu percaya saja. InsyaAllah
aku akan selalu menjaga perasaan ini hanya untukmu tanpa ada suatu ikatan
‘’pacaran’’. Menurutku, inilah yang ingin
aku jalani bersamamu. Yang aku harap… kau pun begitu J.
Terimakasih
telah membaca segala curahan hatiku ini. Maafkan jika tak ada sesuatu yang
special dariku, karena aku tak punya apa-apa. Aku hanya berusaha menjadi
seseorang yang lebih baik dan semoga kau bisa mengarahkanku untuk menuju kesana
J.
Aku
memang tak pernah tau bagaimana caramu mencintaiku. Tapi aku yakin, dibalik
kediamanmu itu ada maksud tertentu dan itulah yang terbaik untuk kita. Semoga
kita bisa menjaga satu sama lain. Meskipun sekarang jarakmu berjauhan denganku.
Disini, aku selalu merindukanmu. Meskipun tak jarang kau mengabariku, aku akan
selalu percaya, aku yakin kau akan selalu setia bersamaku.
Maafkan
jika terlalu banyak kata yang terulang-terulang dibuku yang aku berikan kepadamu
ini. Karena memang berlembar-lembar cerita yang tertulis di buku diary ku
berisi tentang itu, sampai berulang-ulang aku menulisnya. Namun, aku tak pernah
bosan membaca halaman sebelumnya.
Terlintas
dalam pikiranku adalah menunggu kabar darimu. Seringkali, aku memang tak
inginkan memulai percakapan terlebih dahulu darimu. Bukan karena aku tak peduli
padamu, bukan karena aku sudah melupakanmu, bukan karena aku tak
mengkhawatirkanmu, bukan karena aku sedang marah padamu, bukan karena sudah ada
seseorang yang mampu menggantikanmu untuk mengisi hariku, bukan karena kau
kurang sempurna untukku, bukan karena aku sudah tak memiliki rasa yang special
lagi untukmu.. Tapi karena itulah caraku untuk menjaga perasaan ini untukmu.
Aku
memang menyayangimu, maafkan jika aku terlalu berlebihan. Hanya lewat tulisan
inilah aku menceritakan apa saja yang aku rasakan selama adanya dirimu.
Untukmu... jaga kesehatanmu selalu ya disana. Disini aku selalu mendo’akanmu sekeluarga.
Jangan lupakan aku meskipun sekarang kita berjauhan. Jika kau tak sedang sibuk,
berilah kabar tentangmu untukku. Karna aku sangat mengkhawatirkanmu.
Maaf
jika kau merasa jenuh membaca semua tulisanku ini. Aku sangat senang jika kini
kau telah mengerti apa hal yang aku pendam selama ini. Aku hanya butuh waktu
yang tepat untukku menceritakan semua ini padamu.
Sebelumnya, pernah
terlintas olehku untuk dapat menemuimu sebelum kau bergegas menempuh pekerjaan.
Sore ini, aku berharap ada sesuatu yang spesial yang dapat aku kenang nantinya.
Dan harapan itu terwujud.
Aku sangat senang sekali saat lebaran kemarin bisa
berjumpa denganmu. Maafkan jika aku terdiam, sebenarnya terlalu banyak hal yang
ingin aku ceritakan hingga akupun berusaha menyimpan lagi, lagi dan lagi.
Terimakasih telah memberikan sesuatu yang berharga untukku. Terimakasih telah
merubahku menjadi pribadi yang lebih baik. Bahagiaku adalah ketika seseorang
merasa bahagia akan kehadiranku disisinya dan bahagiaku pula ialah ketika
melihatmu tersenyum. Aku inginkan detik itu akan dapat berulir kembali. Terimakasih
ya telah menyempatkan waktumu untuk membaca ringkasan dari keseluruhan buku
diary ku.
Selamat
ulangtahun. . . Semoga Allah berikan umur yang panjang dan selalu melindungimu.
Jadilah seseorang yang berbakti kepada orangtua. Aku tau, ada keluarga yang sedang
membutuhkanmu, Bahagiankanlah mereka terdahulu. Maka kamu akan merasakan bahwa
kamu tak sanggup hidup bersama orang-orang yang kamu sayang. Yang terpenting
adalah jangan lupa untuk selalu beribadah, sesibuk apapun kamu. InsyaAllah
semua yang kamu lakukan tidak akan sia-sia dan akan diberi kemudahan oleh Allah
Swt.
Aku menyayangimu….
Maaf jikalau aku hanya memberikan hadiah berupa aksara-aksara ini. Aku tak tau apakah ini berarti untukmu. Semoga kau selalu dalam lindungan-NYA.
Pekalongan, 8 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar